
Bantul, Yogyakarta — Setiap tanggal 1 Muharram, masyarakat Pedukuhan Patihan, Kalurahan Gadingsari, Kapanewon Sanden, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menggelar tradisi budaya dan spiritual yang sarat makna, yaitu Labuhan Kambing Kendit. Kegiatan ini menjadi ungkapan rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan, serta doa untuk keselamatan dan keberkahan di tahun baru Islam.
Prosesi diawali dari Pedukuhan Patihan sebagai titik kumpul peserta kirab. Warga membawa sesaji, hasil bumi, dan seekor kambing kendit—yakni kambing yang memiliki motif alami di bagian perutnya yang menyerupai ikat pinggang putih. Kambing ini bukanlah yang diberi kendit secara buatan, melainkan dipilih karena corak alami tersebut yang sarat filosofi.
Makna mendalam dari kambing kendit ini adalah sebagai pengingat bagi masyarakat untuk mampu mengikat dan mengendalikan hawa nafsu, terutama setelah mendapatkan limpahan nikmat dari alam. Dengan kata lain, tradisi ini mengajarkan agar masyarakat tidak lalai dan tetap bersyukur meskipun hidup dalam keberlimpahan.
Kirab budaya kemudian dilakukan dari pedukuhan menuju Pantai Goa Cemara, diiringi doa dan semangat kebersamaan. Setibanya di lokasi, warga berkumpul di Pendopo Pantai Goa Cemara untuk melaksanakan doa bersama sebagai inti dari rangkaian labuhan.
Puncak acara ditandai dengan pelarungan kambing kendit dan sesaji ke laut selatan, sebagai simbol pelepasan unsur negatif dan penyampaian rasa syukur kepada Sang Pencipta. Ritual ini juga menjadi bentuk harmonisasi antara manusia dan alam, serta peneguhan kembali nilai-nilai spiritual dalam kehidupan masyarakat.
Labuhan Kambing Kendit telah berlangsung secara turun-temurun dan menjadi identitas budaya masyarakat pesisir selatan Bantul. Selain memperkuat nilai religius dan sosial, tradisi ini juga menjadi daya tarik budaya yang memperkaya khasanah wisata spiritual di kawasan Pantai Goa Cemara.